Latest Entries »

Cinta Terhalang Kain Kafan

Masih terbayang dalam ingatan

Saat ku melepas kepergiannya

Ku tatap wajahnya penuh pandangan kosong

Tapi Senyumnya tetap terlihat manis

Meski kesakitan bersarang pada tubuhnya

Waktu terus mengalir

Sang raja merampas dewi

Namun ku tak pernah lelah menjaganya

Hingga kesakitan merampas dia dari ku

Oh…Tuhan….

Mengapa kau pisakan aku dengannya…??????

Kini tinggal memori kebersamaan yang ada

Karena cintanya terhenti di balik kain kafan

Namun cinta ku tak sampai di sini

Meski Aku dan dia berbeda alam

Tapi cinta ku padanya kan terus ada

Sampai nanti ajal menjemput ku…..

Menyatukan dalam lembah  abadi……….

Iklan

Hati

Hati …

Semakin lelah tuk berlari

Angan semakin menjauhi mimpi

Dalam keputus asaan nurani kembali 

Meskipun kadang hati ini lelah

Tak sanggup meski selangkah

Tersenyum hanya sembunyikan luka

Luka yang sudah terpatri

dalam di sanubari

Sakit ?

Memang sakit

Kadang hanya tawa kepalsuan yang menemani

Akankah mencoba bermimpi ?

Yaaa…

Diri ini kembali mencoba bermimpi

Berpegang teguh pada kesetiaan hati

dan bersandar pada keridhoan Ilahi Robbi

 

MENGERJAI GAJAH

Pada suatu hari yang cerah ketika Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai, ia tiba-tiba menjumpai ada kerumunan orang. Ia pun merasa penasaran dan kemudian bertanya kepada seseorang disana,
“ Sedang ada apa disana?”, tanya Abu Nawas.
“Sedang ada pertunjukan seekor gajah ajaib”, jawab orang itu.
“Ajaib bagaimana maksudmu?”, janya Abu Nawas.
“Gajah itu mengerti bahasa manusia, dan ia tidak mau tunduk kepada orang lain kecuali pemiliknya”, jawab orang itu.

Abu Nawas semakin penasaran dan segera menuju ke kerumunan untuk menyaksikan pertunjukkan. Sesampai dikerumunan, ia melihat sang pemilik gajah ajaib dengan bangga menawarkan kepada penonton akan memberikan hadiah yang besar seandainya mereka dapat menundukkan gajah tersebut agar mau menurut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Satu persatu penonton mulai mencoba melakukan berbagai cara agar gajah itu mau menganggukkan kepalanya. Namun belum ada satupun yang berhasil menundukkan gajah ajaib itu. Keadaan tersebut semakin membuat Abu Nawas penasaran, dan iapun tertarik ingin menguji seberapa gigihnya gajah tersebut tunduk hanya pada pemiliknya sehingga ia tidak mau menuruti orang lain. Abu Nawas Kemudian maju mencoba menundukkan gajah itu. ia berbicara pada gajah tersebut,

“Tahukah engkau siapa diriku?”, gajah itu menggelengkan kepalanya.
“Apakah engkau takut kepada diriku?”, gajah itu tetap menggelengkan kepalanya.
“Takutkah engkau kepada tuanmu?”, gajah itu mulai ragu dan Abu Nawas kembali bertanya,
“Jika engkau tidak takut kepada tuanmu, maka aku akan melaporkan kepada tuanmu”, desak Abu Nawas.

Mendengar ancaman Abu Nawas dengan spontan kemudian gajah itu langsung menganggukkan kepalanya. Gajah tersebut tidak teringat akan perintah tuannya untuk tidak menurut kepada orang lain.

Penonton bersorak ria melihat keberhasilan Abu Nawas menundukkan gajah yang katanya ajaib itu dan dengan berat hati bercampur malu, pemilik gajah itu menyerahkan hadiah yang dijanjikan kepada Abu Nawas. Pemilik gajah sangat marah dan kemudian memukul gajah tersebut.

Pada beberapa hari berikutnya pemilik gajah kembali mengadakan pertunjukan dengan maksud membalas rasa malu sebelumnya. Tapi kali ini dengan gaya yang berbeda, dimana penantang harus mampu menundukkan gajah itu agar mau menganggukkan kepalanya. Satu persatu penonton mulai mencoba dengan berbagai cara termasuk cara yang digunakan Abu Nawas sebelumnya. tetapi gajah itu tetap tidak mau tunduk dan menggelengkan kepalanya, karena sangat takut pada ancaman tuannya.

Tibalah giliran Abu Nawas untuk maju dan kembali melemparkan pertanyaan kepada gajah tersebut.
“Tahukah engkau siapa diriku?”, tanya Abu Nawas.
Gajah itu mengangguk.
“Takutkah engkau kepadaku?”.
Gajah itu tetap mengangguk.
“Takutkah engkau kepada tuanmu?”.
Gajah itu masih mengangguk.
“Tahukah engkau gunanya balsem ini?”, tanya Abu Nawas seraya mengeluarkan bungkusan kecil yang berisi balsem dari sakunya.
Namun gajah itu tetap mengangguk.

Abu Nawas kembali bertanya,
“Apa boleh balsem ini ku gosokkan pada selangkanganmu?”.
Gajah itu mengangguk.

Abu Nawas kemudian menggosokkan balsem selangkangan gajah. Gajah tersebut merasa sangat kepanasan. Abu Nawas kemudian mengeluarkan lagi dari sakunya bungkusan balsem, kali ini lebih besar dan dia kembali bertanya kepada gajah tersebut,

“Apakah boleh aku menghabiskan balsem ini untuk kugosokkan pada selangkanganmu?”, tanya Abu Nawas.

Gajah itu sangat ketakutan dan lupa akan ancaman tuannya, dengan spontan kemudian gajah itu langsung menggelengkan kepalanya.
Untuk kesekian kalinya Abu Nawas dapat menundukkan gajah itu dan kembali pulang dengan membawa hadiahnya.

Saya punya sate langganan , Ini sate paling enak di surabaya menurut saya. Susah cari lawannya!
Yang aneh, sate ini bukanya suka-suka. Jadi kita harus telpon dulu kalau mau ke sana. Beberapa kali saya nekad datang ke sana tanpa telepon dulu eeehhh tutup.

Saya tanya: “Kenapa cara jualannya seperti itu?

Pak haji Ramli penjual satenya menjawab: “Rejeki sudah ada yang ngatur, kenapa harus ngoyo?”

“Bukan ngoyo Pak”, jawab saya. “Bapak bisa kehilangan pelanggan kalo jualannya begitu!”

“Ah, kayak situ yg ngatur rejeki aja”, katanya.”

Saya kasih dia saran, “Sebaiknya Bapak buka tiap hari! Kalau bisa malam juga buka karena banyak orang suka makan sate malam juga Pak!”, kata saya meyakinkan dia.

Pak Haji Ramli menghela napasnya agak dalam. “Hai anak muda, rezeki itu ada di langit bukan di bumi! Anda muslim kan?” tanya Pak haji sambil natap wajah saya.

“Suka ngaji gak? Coba baca Quran: “Cari nafkah itu siang, malam itu untuk istirahat!”, kata Pak haji lagi meyakinkan.

“Saya cuma mau jualan siang, kalau malam biarlah itu rejekinya tukang sate yang jualannya malam. Dari jualan sate siang saja saya sudah merasa cukup dan bersyukur, kenapa harus buka sampe malam?”, Pak Haji nyerocos sambil membakar sate.

“Coba liat orang-orang yang kelihatanya kaya itu. Pake mobil mewah, rumahnya mewah. Tanya mereka, emang hidupnya enak?” “Pasti lebih enak saya karena saya gak dikejar target, gak dikejar hutang! Saya 2 minggu sekali pulang ke madura, mancing, naik sepeda lewat sawah-sawah, lewat kampung-kampung, bergaul dengan manusia-manusia yang menyapa dengan tulus. Bukan nyapa kalau ada maunya! Biarpun naik sepeda tapi jauh lebih enak daripada naik Jaguar! Anginnya asli gak pake AC. Denger kodok, jangkrik lebih nyaman di kuping daripada dengerin musik dari alat musik bikinan! Coba Anda pikir, buat apa kita ngoyo bekerja siang-malam?”

“Jangan-jangan kita muda kerja keras ngumpulin uang, sudah tua uangnya dipake ngobatin penyakit kita sendiri karena terlalu kerja keras waktu muda! Itu banyak terjadi kan? Dan… jangan lupa, Tuhan sudah menakar rejeki kita! Jadi buat apa kita nguber rejeki sampe malam? Rejeki gak bakal ketuker!! Yang kerja siang ada bagiannya, begitu juga yang kerja malam!” kata Pak Haji menimpali ucapannya.

“Kalau kata peribahasa, waktu itu adalah uang. Tapi jangan diterjemahkan tiap waktu untuk cari uang! Waktu itu adalah uang, artinya kita harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya karena waktu tidak bisa diulang, uang bisa dicari lagi! Waktu lebih berharga dari uang. Makanya saya lebih memilih waktu daripada uang!”

“Waktu saya ngobrol dengan Anda ini jauh lebih berharga daripada saya bikin sate. Kalau saya cuma bikin sate, di mata Anda, saya hanya akan dikenang sebagai tukang sate. Tapi dengan ngobrol begini semoga saya bisa dikenang bukan cuma tukang sate, mungkin saya bisa dikenang sebagai orang yang punya arti dalam hidup Anda sebagai pelanggan saya. Kita bisa bersahabat!” 

“Waktu saya jadi berguna juga buat saya. Begitu juga buat Anda. Kalau Anda merasa ngobrol dengan saya ini sia-sia, jangan lupa ya: “Rejeki bukan ada di kantor, tapi di langit!” Begitu kata Pak Haji Ramli menutup pembicaraan.

SUBUH

Menjelang subuh
Fajar kidzib menggurat alif di kening langit
Kemudian shidik, kuas cahayanya melukis wajah seorang sumringah
Di sepanjang sisian jalan penghujung malam.

Menjelang subuh
Halimun bersimpuh embun
Jatuh terpekur menangkup wujud kamilun
dari tetes bening yang bergulir di atas daun
Menyiwak pagi, menuntun hati menyusuri ranah hampar sajadah.

Hawa dingin menggigit, menyua geletar syukur di kaki-kaki langit
Di antara pesona yang menyemburat sahaja.

Pagi meluruh, mendekap subuh
Kumandang azan bersahutan memetik sinar bulan
Kemudian linang
Menyinggasana di ceruk-ceruk sukma
Di liuk mata para pengais doa

Seorang wanita berumur 40 tahunan, yang baru saja menjadi direktur di sebuah perusahaan, membawa putranya datang ke kantor untuk makan.

Selesai makan, putranya membuang plastik bekas makan di lantai, dan datanglah seorang nenek dengan sapunya datang dan menyapu bersih sampahnya…

Wanita yang baru menjabat jadi direktur ini, melihat nenek ini menyapu, dengan baju biasanya, wajahnya yang sudah berkeriput bukannya pensiun, malah harus jadi tukang sapu,

Karena itulah dengan senyum sinisnya dia bilang ke putranya, “Nak, sudah gede ntar rajin belajar ya, jangan jadi kayak dia lihat tuh, udah tua tapi masih ngambil sampah!”

Putranya yang masih belum mengerti apa – apa, hanya angguk – angguk.
Nenek ini melihat kesombongan wanita ini, dia bertanya, “Mohon maaf, numpang nanya, kamu siapa ya di perusahaan ini?”

Dengan angkuhnya dia menajwab, “Aku direktur baru di sini… Emang kenapa?”

Nenek ini hanya angguk kepala tak menjawab.
Dari jauh datang seorang pria dengan jas rapi, menghampiri nenek ini.
“Ibu CEO, rapat sebentar lagi akan berjalan, silahkan masuk ke ruangan bu.”

Nenek ini buka jaket lusuhnya, dan terlihat baju dan jas rapi di balik jaketnya yang lusuh, ternyata dia adalah pendiri perusahaan ini, tanpa mengubah ekspresinya, dia berkata ke pria itu, “Mas, tolong ya cabut jabatan wanita sombong ini, kita gak perlu orang sombong seperti dia di perusahaan kita, bisa berabe ntar.”

Pria itu pun mencatat nomor pekerja wanita ini dan di hari itu dia dipecat!

Wanita ini tak bisa menjawab apa – apa, terpaku, nenek CEO ini berkata ke anaknya, “Aku memecat mamamu, berharap kamu mengerti, menjadi orang besar bukan ditentukan dengan kepintaran orang itu, tetapi bagaimana kita, orang besar, mampu menghargai orang – orang yang rendah di bawah dan membantu mereka.”

Sahabat, hidup itu seperti roda, banyak lingkup – lingkup kehidupan orang lain yang tak kita mengerti.
So, Jangan pandang seseorang hanya dari luar fisiknya, namun hargailah setiap orang tanpa membedakan apapun.

Salam Cerdas

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.”Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya…” demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.

Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti tidak akan mendapatkan uang untuk makan dan modal membeli kedelai yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…”

Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe.

Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. Keajaiban Tuhan akan datang… pasti, yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya.

Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, air mata menitik di keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu.

Dan dia tiba-tiba merasa lapar…merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku,
batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan.

Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak.

Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…

Tiba-tiba sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya? Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat.

Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menengadahkan tangan. Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe…

Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…

Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi? tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi!

“Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”

Ooh, bukan begitu, Bu. Anak saya yang kuliah di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?

Kisah yang biasa bukan, dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. Padahal Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna.

Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yg serupa. Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yg Allah SWT takdirkan.

Seorang pria beristeri tanpa sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah kantin kompleks perkantoran, karena ada urusan pekerjaan merekapun tukeran PIN BB.

Malam harinya si gadis mulai BBM si pria :

Gadis : Mas hebat ya. Punya usaha sendiri, sukses pula

Pria : Terima kasih ya:)

Esoknya si gadis menelpon sekedar say hallo.

Gadis : Kapan ya mas, kita makan bareng lagi?

Pria : Oke kapan aja boleh

Setelah itu mereka masih sering berhubungan melalui BBM dan telepon, sesekali juga janjian pergi makan siang bareng.

Hari-hari berlalu, tiada hari tanpa kontak antara mereka. Sampai suatu hari, si gadis BBM, isinya adalah :

“Mas… Sebenarnya aku mencintaimu , aku tau kamu udah punya keluarga, tapi aku mau menerima kondisi sebagai isteri ke-2, aku siap mas dan maaf aku mengganggu perasaanmu.

Dengan berat hati pria itu menjawab : “Dik, aku mengerti dan paham maksudmu… tapi dengan berat hati aku harus jawab TIDAK! Aku tau kamu memang cantik, dan aku yakin semua lelaki pasti mengatakan tubuh dan parasmu elok dan cantik.

Tapi, tahukah kamu kenapa aku bisa tampil baik dan hingga usahaku sukses? Itu semua karena dorongan dan semangat isteriku.

Sungguh sangat berdosa kalau aku harus berselingkuh dengan seseorang yang hanya mengagumiku, karena tau kalau aku sekarang udah sukses.

Kamu menyukai aku tidak ikhlas, kamu hanya melihat tampilanku semata. Padahal ada seseorang yang tersayang di rumah yang telah bersusah payah mendorong aku agar selalu tampil sebaik mungkin, dia adalah isteriku tercinta.

Kalau kamu menyukai aku, artinya kamu tinggal memetik hasilnya, dan cara ini tidak pernah abadi.

Taukah kamu bahwa aku memulai ini dari nol dan isteriku yang selalu mendampingiku di kala susah, terpuruk dan sukses seperti ini.

Taukah kamu bahwa isteriku yang selalu mendoakan kesuksesanku hingga aku bisa menjadi seperti ini. Kamu memang cantik, tapi hati isteriku lebih cantik

Terima kasih atas cintanya, maaf aku tidak bisa membalas seperti kehendakmu.

Mudah mudahan keluarga kita dijadikan keluarga yang sakinah mawadah warohmah dan bagi yang belum berkeluarga mudah mudahan diberikan suami/istri yang sholeh/sholehah. Aamiin..

Keheningan malam masih kurasa

Saat lantunan takbir terangkai embun

Saat alunan tasbih menyapa peraduan

dan dzikir tersampaikan hembusan angin

Rasa itu semakin menghantam jelas

Saat belaian air mengenai wajah

Saat diri terbalut untaian benang

Saat jiwa terhempas nur

Malam semakin hening

Tatkala ku menghadap-MU

Dengan linangan air mata

Bercampur kebahagiaan meresapi setiap lantunan ayat Suci

Ketika malam semakin larut

Aku menangis dihadapanMu

Aku bermohon kepada-Mu

Ya Illahi Robbi…

Dalam tahajjudku aku berserah diri pada-Mu

Dalam tahajjud malamku aku mengadu pada-MU

Dalam tahajjud malamku aku mengharap rido-Mu

Ya Robb…..

kabulkan permohonanku

dalam sujud sepi ini

Ku hamparkan kepasrahanku hanya kepada~Mu

Dalam Hamparan Sajadah Tahajjud

Terakhir kali ku lihat senyummu…

Terakhir kali ku lihat tatapan sayangmu…

Meski kesakitan menghampirimu…

diantara aliran keringat yang membasahi tubuhmu….

Dengan lukisan Asma Allah dibibirmu…

Sore itu…

Engkau pamit dan menyalami putra-putrimu ini…

Ditengah terpaan kesakitan yang terus menyelimuti…

dengan nafas tertatih-tatih….

dan hujan yang menemani…

Aku melihat air mata menetes dalam pandangan kesedihanmu…

saat engkau melihat putramu ini menangis dipangkuanmu…

yang berharap semua akan baik-baik saja….

Malam itu…

aku menemanimu….

memegang tangan yang selama ini merawat dan menjagaku dengan kasih sayang…

membimbing dan membantuku saat ku terjatuh…

21.30 aku kembali menemanimu….

selepas menemui teman kerjaku…

aku melihat engkau berbaring melihat tv…

Disekitarmu sudah terlelap dalam mimpi…

21.45 engkau melihatku dengan tatapan sayu…

ditemani senyuman manismu…

Ku panggil abah…

Kau pun tersenyum padanya…

21.50 setelah membaca Asma Allah 3 kali…

Engkau tidur selama-lamanya…

meninggalkan putramu ini…

yang masih butuh bimbingan dan kasih sayang darimu…

yang masih terlalu rapuh untuk menjalani kerasnya kehidupan ini…

sekarang…

dan selamanya…

 

 

umi

 

*_SELAMAT TIDUR PANJANG UMMI_CINTA DAN KASIH SAYANG YANG UMMI BERIKAN TAK KAN PERNAH KU LUPAKAN SEPANJANG HIDUPKU_UMMI AKAN SELALU JADI PELITA DALAM HATI DAN HIDUPKU_SEMOGA ALLAH SWT SENANTIASA MENYAYANGI DAN MENJAGA UMMI_SEPERTI UMMI MENJAGA DAN MENYAYANGI AKU SEWAKTU MASIH KECIL HINGGA MENJADI SEPERTI SEKARANG_*

 

*_SALAM TA’DZIM KU UNTUK MU UMMI – SELAMANYA_*

Alkisah, di sebuah desa hiduplah seorang wanita dengan wajah yang buruk rupa. Sedemikian buruknya sehingga para pemuda di desa itu menjauhinya. Di desa tersebut ada sebuah kebiasaan untuk memberi mas kawin dari pria yang hendak melamar gadis. Dan pasti, si buruk rupa tadi, menjadi tertawaan para pemuda.

Banyak tidaknya mas kawin yang diberikan tersebut tergantung dari kecantikan sang gadis. Jadi apabila gadis itu berwajah biasa-biasa saja, maka mas kawinnya berharga seekor kambing. Kalau lebih cantik lagi, jumlah kambingnya bertambah banyak. Dan yang terbanyak mas kawinnya sampai saat itu adalah mas kawin primadona di desa tersebut, sebanyak 10 ekor kambing.

Setiap orang berguman tentang ‘harga’ gadis jelek itu. Mereka berkata, “Ah, dia kan buruk rupa. Mana ada yang mau dengan dia. Jangankan seekor kambing, seekor ayam pun pasti tidak ada yang mau membayarnya.” Dan yang lain berkata, “Jangankan seekor ayam, membayarnya dengan bangkai ayam mati pun pasti tidak ada yang mau.”

Mereka menertawakan nasib gadis malang yang buruk rupa itu. Gadis itu bolak-balik medengar gurauan mereka, dan hatinya menjadi sedih dan terluka. Harga dirinya rusak, dan dia sendiri hampir percaya, bahwa tidak ada seorang pun yang mau mengambil dia sebagai istri.

Sampai suatu saat, tersiar kabar bahwa gadis buruk rupa itu disunting oleh pemuda dari desa seberang. Dan penduduk desa pun bertanya-tanya, pemuda malang manakah yang gila meminang gadis buruk rupa itu?

Mereka berbondong-bondong datang ke rumah orangtua gadis buruk rupa tersebut dan bermaksud menanyakan tentang kebenaran hal tersebut. Dan alangkah kagetnya mereka, ketika sampai di sana, mereka menemukan mas kawin dari pemuda itu. Mas kawinnya berupa sapi!

Tidak pernah ada seorang wanita cantik mana pun yang pernah diberi mas kawin semahal dan seberharga itu! Bahkan gadis tercantik di desa itu hanya ‘seharga’ 10 ekor kambing. Dan mereka lebih terkejut lagi ketika mendapatkan bahwa tidak hanya seekor sapi, tapi ada sepuluh ekor sapi di kandang di samping rumah gadis buruk rupa itu.

Sepuluh? Ya sepuluh ekor sapi! Mereka tambah penasaran. Oleh sebab itu, penduduk berbondong-bondong berjalan ke desa seberang untuk melihat bagaimana nasib wanita buruk rupa itu. Berjuta pertanyaan muncul saat itu, “Kok pemuda itu gila ya? Matanya buta kali, nggak lihat apa kalau dia jelek setengah mati? Ah, jangan-jangan cuma dijadikan pembantu rumah tangga, pasti diberi makanan yang sedikit lalu dijual lagi ke pedagang budak belian.”

Ketika sampai di rumah pemuda tersebut, mereka melihat bahwa rumah tersebut amatlah mewah. Dindingnya diukir dengan amat indah. Dan mereka semakin yakin bahwa dugaan mereka tentang wanita malang ini akan dijadikan pembantu rumah tangga dan budak adalah benar.

Ketika mereka mengetuk pintu, seorang pemuda yang amat tampan menyambut mereka. Dia memperkenalkan diri sebagai pemilik rumah. Mereka bertanya apakah mereka bisa bertemu dengan gadis tersebut. Sang pemuda kembali masuk ke rumah, setelah mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.

Seorang wanita muda yang cantik datang menyambut mereka. Rambutnya tertata rapi, tutur katanya halus, dengan ramah ia mempersilahkan mereka mengambil makanan dan minuman.

Penduduk bertanya, “Di manakah gerangan gadis yang berasal dari desa mereka? Apakah baik-baik saja? Di manakah ia sekarang?” Wanita yang cantik tersebut menjawab, “Sayalah orangnya.”

Orang-orang pun melongo, melotot, dan tak mampu berkata-kata. Mereka bertanya? Apakah benar? Apakah mereka tak salah lihat? Gadis itu kan jelek sekali, sementara wanita di depan mereka itu amat anggun, amat cantik.

Wanita tersebut berkata, “Saya merasa cantik, ketika saya mengetahui bahwa suami saya menghargai saya dengan jumlah yang amat tinggi. Saya sadar bahwa dia berusaha berkata bahwa saya cantik, bukan seperti apa kata orang, tetapi karena dia mencintai saya sebesar itu. Sebagai balasannya, saya berusaha memberikan yang terbaik yang pernah saya bisa berikan, karena saya tahu, suami saya membeli saya dengan harga yang amat mahal. Saya berdandan dengan cantik, saya mengubah model rambut saya, dan berusaha menyenangkan hati suami saya. Dan inilah saya yang sekarang.